Feeds:
Pos
Komentar

SEJARAH KESEHATAN MASYARAKAT

Dalam ilmu kesehatan masyarakat tidak terlepas dari 2 tokoh yakni, Asclepius dan Higela, yangkemudian muncul dua aliran atau pendekatan dalam menangani masalah-masalah kesehatan.Pertama aliran kuratif dari kelompok Aclepius dan aliran preventiv dari golongan Higela, dualairan tersebut saling berbeda dalam pengaplikasiannya pada kehidupan masyarakat. Aliran kuratif bersifat rektif yang sasarannya per-individu, pelaksanaanya jarak jauh dan kontak langsung dengan sasaran cukup sekali,kelompok ini pada umumnya terdiri dari dokter, dokter gig, psikiater, dan praktisi-praktisi lain yang melakukan pengobatan baik fisik, psikis, mental maupun sosial. Sedangkan aliran prevevtif lebih bersifat proaktif atau kemitraan yangsasarannya masyarakat luas, Para petugas kesehatan masyarakat lulusan sekolah atau institusimasyarakat bebagai jenjang masuk dalam kelompok ini.

PERIODE PERKEMBANGAN KESEHATAN MASYARAKAT

Perkembangan ilmu kesehatan masyarakat dikelompokkan dalam 2 periode:

  I. Periode sebelum ilmu pengetahuan

Pada periode ini masyarakat belum terlalu memahami arti pentingnya kesehatan dalamkehidupannya dalam sehari-hari, ini ditandai dengan adanya peraturan tertulis yang mengatur  pembuangan limbah kotoran yang tujuan awalnya tidak untuk kesehatan tetapi karena limbahmenimbulkan bau tidak sedap. Namun lama-lama mereka makin menyadari pentingnyakesehatan masyarakat setelah timbulnya berbagai macam penyakit menular menyerang sebagian penduduk dan menjadi epidemi bahkan telah menjadi endemi. Contohnya kolera namun upaya pemecahan masalah secara menyeluruh belum dilakukan.

  II.  Periode ilmu pengetahuan

 Periode ini masalah penyakit merupakan masalah yang komplek, sehingga jika pada periode sebelum ilmu pengetahuan belum ditemukan pemecahan masalah, pada periode ini mulai ditemukanya penyebab-penyebab penyakit dan vaksin sebagai pencegah, ini dibuktikan LousPasteur menemukan vaksin pencegah cacar. Josep Lister menemukan asam karbol untuk sterilisasi ruang operasi dan William Marton menemukan ether sebagai anestesi pada waktuoperasi. Penyelidikan dan upaya-upaya kesehatan masyarakat secara ilmiah pun mulaidigalakkan. Ini dibukatikan dengan telah dikembangkannya pendidikan tenaga kesehatan profesional oleh seorang pedagang wiski dari baltimor Amerika dengan berdirinya universitas.

RUANG LINGKUP KESEHATAN MASYARAKAT

Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni. sebagai ilmu kesehatan masyarakat mencakup 2disiplin pokok keilmuan yakni ilmu BIO-medis dan ilmu sosial, sejalan dan perkembangan ilmukesehatan masyarakat mencakup: Ilmu Biologi, kedoteran, kimia, fisika, lingkungan, sosial,antropologi, psikologi, pendidikan dsb. Sehingga kesehatn masyarakat sebagai ilmu yang multidisiplin. Secara garis besar, pilar utama ilmu kesehatan masyarakat sebagai berikut:

a.Epidemiologi 

b.Biostatistik / Statistik kesehatan

c.Kesehatan lingkungan

d.Pendidikan kesehatan dan ilmu perilaku

e.Administrasi kesehatan masyarakat

f.Gizi masyarakat

g.Kesehatan kerja

Dan masalah kesehatan masyarakat adalah multi kausal pemecahannya secara multi disiplin,sedangkan kesehatan masyarakat sebagai seni mempunyai bentangan semua kegiatan yanglangsung atau tidak untuk mecegah penyakit (Preventif), meningkatkan kesehatan (Promotif),terapi (terapi fisi, mental, sosial) adalah upaya masyarakat, misal pembersihan lingkungan, penyediasan air bersih, pengawasan makanan dll. Dan penerapannya sebagai berikut:

a. Pemberantasan penyakit yang menular atau tidak  

b. Perbaikan sanitasi lingkungan

c.  Perbaikan lingkungan pemukiman

d. Pemberantasan Vektor 

e. Penyuluhan

f. Pelayanan kesehatan Ibu dan anak 

g. Pembinaan gizi

h. Pengawasan sanitasi tempat umum

i. Pengawasan obat dan mibuman 

j. Pembinaan peran serta masyarakat

Jadi kesehatan masyarakat veteriner adalah semua yang berhubungan dengan hewan yang secaralangsung atau tidak mempengaruhi kesehatan manusia yang berfungsi untuk melindungikonsumen dari bahaya yang dapat menganggu kesehatan, menjamin kententraman batin, pada penularan zoonosis, melindungi petani atau peternak dari rendahnya mutu nilai bahan asal hewanyang diproduksi. Pemerintah juga telah mengeluarkan peraturan dalam pelaksanaan pembatasan penyakit-penyakit menular trlihat pada UU No6/1967 ttg Anthropozoonosis, PP No22/ 1983 ttgZoonosa, PP No22/1983 bab4 pasal 24 ttg Pemberantasan rabies dsb.

 

Jenis dan jumlah makanan yang dimakan masing-masing orang dalam suatu daerah yang sama dapat berbeda, apalagi dengan daerah lain, atau dengan Negara lain. Selera makan dengan jenis makanan dan olahan makanan di suatu daerah juga menyebabkan kebiasaan makan yang berbeda-beda. Tetapi yang penting adalah semua makanan yang masuk ke dalam tubuh harus dapat memenuhi kebutuhan tubuh. Makanan kita terdiri dari tiga kelompok utama yaitu karbohidrat, lemak, dan protein (Zat Gizi Makro). Selain itu tubuh kita juga membutuhkan sejumlah kecil vitamin dan mineral (Zat Gizi Mikro).

1. Zat-zat yang terkandung di dalam makanan

a. Protein

                Protein tersusun dari unsur-unsur karbon, hydrogen, oksigen, nitrogen, dan kadang-kadang ditambah sulfur dan fosfat. Protein banyak terdapat pada tumbuhan, seperti pada biji-bijian terutama pada kacang-kacangan dan gandum, juga terdapat pada hewan seperti daging, telur, ikan, susu, ayam, dan sebagainya. Protein dari tumbuhan disebut protein nabati, sedangkan yang berasal dari hewan disebut protein hewani. Fungsi protein antara lain sebagai berikut :

  • Sebagai penghasil kalori setelah karbohidrat dan lemak
  • Membangun jaringan baru
  • Mengganti sel-sel yang rusak
  • Menjaga keseimbangan asam dan basa dalam tubuh

Jika karbohidrat dan lemak sudah tidak ada maka protein akan diubah menjadi energi. Tiap-tiap 1 gram protein jika dibakar akan menghasilkan 4,1 kilokalori. Protein sangat dibutuhkan bagi anak-anak yang sedang tumbuh, ibu hamil, dan orang yang sembuh dari penyakit (untuk mengganti sel-sel yang rusak akibat penyakit), Bagi orang yang sudah tidak mengalami pertumbuhan, kebutuhan protein lebih sedikit. Jika protein yang masuk ke dalam tubuh dalam jumlah berlebih, sisanya tidak dapat disimpan dalam tubuh, sehingga harus dikeluarkan dari tubuh setelah dirombak terlebih dahulu.

b. Lemak

                Lemak juga merupakan sumber energi setelah karbohidrat. Lemak juga tersusun atas unsur C, H, dan O tetapi energi yang ditimbulkan lebih banyak dibandingkan dengan karbohidrat. Lemak dapat menghasilkan 9,3 kilokalori setiap pembakaran 1 gram lemak. Pada umumnya diperlukan 0,5 – 1 gram untuk setiap kilogram berat badan. Coba, berapa gram zat lemak yang dibutuhkan tubuhmu setiap hari?

                Makanan yang mengandung lemak ada yang berasal dari tumbuhan dan ada pula yang berasal dari hewan. Lemak yang berasal dari tumbuhan disebut lemak nabati, contohnya : kacang-kacangan, minyak kelapa, avokad, margarin dan sebagainya. Lemak yang berasal dari hewan disebut lemak hewani, contohnya: susu, lemak daging, telur, minyak ikan, dan sebagainya.Ada pun fungsi lemak antara lain :

1)      Sebagai sumber energy setelah karbohidrat.

2)      Sumber pelarut vitamin A, D, E, K

3)      Melindungi organ-organ tubuh yang penting (seperti: mata, jantung, ginjal, usus, dan lainnya)

4)      Melindungi tubuh terhadap suhu yang rendah.

Makanan yang berlemak sangat dibutuhkan bagi anak-anak pada masa pertumbuhan, tetapi bagi orang yang sudah dewasa dan sudah tua jika terlalu banyak makanan yang berlemak akan mengganggu kesehatannya. Lemak mengandung kolesterol yang penting dalam membentuk membrane sel dan hormone tetapi jika kelebihan zat lemak, maka kolesterol akan mengendap di dalam dinding pembuluh darah, sehingga menjadi sempit dan menyebabkan tekanan darah menjadi tinggi. Kelebihan lemak juga dapat ditimbun di bawah kulit sehingga menyebabkan kegemukan.

c. Karbohidrat

                Karbohidrat adalah sumber energi utama yang mengandung unsur karbon (C), hydrogen (H), dan Oksigen (O2). Makanan yang mengandung karbohidrat antara lain tepung dan gula. Zat tepung terdapat pada nasi, sagu, ketela pohon, roti, kentang, ubi, dan lain-lain. Sedangkan gula terdapat pada buah-buahan, sayur, dan susu. Karbohidrat dapat menghasilkan energi. Tiap 1 gram karbohidrat jika dibakar menghasilkan energi 4 – 4,1 kilokalori. Energi yang dihasilkan digunakan untuk aktifitas tubuh sehari-hari. Energi yang dibutuhkan tiap-tiap orang jumlahnya berbeda-beda hal ini tergantung pada macam kegiatan, jenis kelamin, usia, dan berat badan. Perhatikan contoh berikut.

                Orang yang bekerja keras dengan banyak mengeluarkan keringat membutuhkan energi lebih banyak dibandingkan orang yang bekerja di kantor yang tidak banyak mengeluarkan keringat. Anak muda lebih banyak mengeluarkan energi dibandingkan orang tua, sebab anak muda umumnya lebih banyak melakukan kegiatan fisik dibandingkan orang tua, laki-laki pada umumnya lebih banyak membutuhkan energi daripada perempuan, sebab laki-laki lebih banyak melakukan aktivitas yang membutuhkan fisik dibandingkan perempuan.

                Berat badan pun sangat memengaruhi kebutuhan energi, karena orang yang lebih berat jumlah sel-selnya lebih banyak dibandingkan yang lebih ringan. Sel merupakan makhluk hidup terkecil yang membutuhkan energi. Untuk aktivitas sel tersebut, misalnya untuk penebalan sel dan untuk kegiatan di dalam sel. Oleh karena itu, orang yang lebih berat lebih banyak membutuhkan energi dibandingkan yang lebih ringan.

                Jika karbohidrat yang dimakan ada kelebihan, maka karbohidrat di dalam tubuh akan disimpan di dalam hati, darah, dan otot menjadi glikogen hati, glikogen otot, dan glikogen darah (gula darah). Karbohidrat dalam tubuh juga dapat diubah menjadi lemak.

 

KEKURANGAN VITAMIN A

A. Masalah Kekurangan Vitamin A

Salah satu masalah gizi pada anak yang perlu mendapat perhatian adalah defisiensi atau kekurangan vitamin A. Kekurangan vitamin A ini merupakan penyebab utama kebutaan di Indonesia. Selain itu, seringkali ditemukan jika anak menderita kekurangan kalori protein (KKP), maka anak itu juga sekaligus menderita kekurangan vitamin A.

B. Manfaat Vitamin A

Vitamin A memegang peranan penting untuk pemeliharaan sel kornea dan epitel dari penglihatan, metabolisme umum dan proses reproduksi, membantu melindungi tubuh terhadap kanker.

Untuk kesehatan jaringan tubuh, vitamin A mempercepat proses penyembuhan luka. Dalam kegiatan pertumbuhan dan perkembangan jaringan epitelial, vitamin A mempertahankan kesehatan dan struktur kulit, rambut dan gigi. Beberapa penyakit kulit seperti jerawat dan psoriasis adalah sebagai akibat kekurangan vitamin A.

Selanjutnya juga diketahui peranan vitamin A sebagai antioxidant, yang membantu merangsang dan memperkuat daya tahan tubuh dalam meningkatkan aktivitas sel pembunuh kuman (natural killer cell), memproduksi limfosit, fagositis dan antibody. Bahkan kegunaan vitamin A termasuk memperkuat kekebalan selular (sistem sel) yang menghancurkan sel kanker.

Selain itu vitamin A mencegah dan memperbaiki penciutan kelenjar timus (kelenjar utama yang berperan dalam sistem imun) yang terjadi sebagai akibat stress kronis. Fungsi tubuh lain yang dibantu oleh vitamin A antara lain adalah reproduksi, pembuatan dan aktivitas hormon adrenalin, pembuatan dan aktivitas hormon tyroid, mempertahankan struktur dan fungsi sel-sel saraf, menjaga kekebalan tubuh pada umumnya, serta memperbarui sel jaringan tubuh.

Manfaat vitamin A dalam tubuh mencakup 3 golongan besar yaitu :

a. Fungsi yang berkaitan dengan penglihatan

Vitamin A berperan sebagai retina (Retinene) yang merupakan komponen dari zat penglihatan Rhodopsin (zat yang dapat menerima rangsangan cahaya dan merubah energi cahaya menjadi energi biolistrik yang merangsang penglihatan).

b. Fungsi dalam metabolisme umum berkaitan dengan metabolisme protein

1. Integritas epitel
Pada defisisensi vitamin A terjadi gangguan struktur maupun fungsi epithelium, terutama yang berasal dari ektoderm. Epitel kulit menebal dan terjadi hyperkeratosis.

2. Pertumbuhan dan perkembangan
Pada defisiensi vitamin A terjadi hambatan pertumbuhan. Ini terjadi karena masalah dalam sintesa protein yaitu adanya hambatan absorbsi vitamin A dan karotin dikarenakan makanan yang rendah dalam kandungan lemak dan protein yang diperlukannya untuk metabolisme protein. Balita yang kekurangan vitamin A pertumbuhannya akan terganggu, balita terlihat kerdil dan kurus, juga mudah terserang penyakit seperti diare, campak, dan lain-lain.

3. Permeabilitas membran
Vitamin A berperan dalam mengatur permeabilitas membran maupun membran dari sub organik selular. Melalui pengaturan permeabilitas membrane sel vitamin A konsentrasi zat-zat gizi dalam sel yang dipergunakan untuk metabolisme sel.

4. Pertumbuhan gigi
Amenoblas yang membentuk email gigi sangat dipengaruhi oleh vitamin A.

5. Produksi hormone steroid
Pada defisiensi vitamin A terjadi hambatan pada sintesa hormon-hormon steroid.

c. Fungsi dalam proses reproduksi

Pada percobaan, defisiensi vitamin A dapat mengakibatkan kemandulan, pada percobaan in vitro dengan pemeliharaan jaringan ovaria dan testis terjadi hambatan perkembangan sel reproduksi. Sel ootid tidak padat berkembang menjadi sel ovum dan sel spermatid juga berkembang lebih jauh menjadi spermatozoa, sel tersebut berhenti berkembang dan menunjukkan degenerasi, kemudian diresorpsi. 

Wanita yang kekurangan vitamin A mampu hamil, tetapi dengan resiko mudah terjadi keguguran dan kesulitan dalam melahirkan. 

C. Faktor Penyebab Kekurangan Vitamin A

Terjadinya kekurangan vitamin A berkaitan dengan berbagai faktor dalam hubungan yang kompleks seperti halnya dengan masalah kekurangan kalori protein (KKP). Makanan yang rendah dalam vitamin A biasanya juga rendah dalam protein, lemak dan hubungannya antara hal-hal ini merupakan faktor penting dalam terjadinya kekurangan vitamin A. 

Kekurangan vitamin A bisa disebabkan seorang anak kesulitan mengonsumsi vitamin A dalam jumlah yang banyak, kurangnya pengetahuan orangtua tentang peran vitamin A dan kemiskinan. Sedangkan untuk mendapatkan pangan yang difortifikasi bukan hal yang mudah bagi penduduk yang miskin. Karena, harga pangan yang difortifikasi lebih mahal daripada pangan yang tidak difortifikasi.

Beberapa penyakit yang mempengaruhi kemampuan usus dalam menyerap lemak dan vitamin  yang larut dalam lemak, meningkatkan resiko terjadinya kekurangan vitamin A. Penyakit tersebut adalah:
– Penyakit seliak,
– Fibrosa kistik,
– Penyumbatan saluran empedu.

Pembedahan pada usus atau pankreas juga akan memberikan efek kekurangan vitamin A. Bayi-bayi yang tidak mendapat ASI mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita kekurangan vitamin A , karena ASI merupakan sumber vitamin A yang baik.

D. Gejala-Gejala Kekurangan Vitamin A

Kekurangan vitamin A sering terjadi pada anak balita. Gejala yang sering mendapat perhatian adalah gangguan pada penglihatan anak, selanjutnya gangguan kesehatan lainnya dapat juga diidentifikasi sebagai akibat kekurangan Vitamin A. 

Berikut adalah gejala dan tanda kekurangan vitamin A:

  • Gejala pertama dari kekurangan vitamin A biasanya adalah rabun senja. Kemudian akan timbul pengendapan berbusa (bintik Bitot) dalam bagian putih mata (sklera) dan kornea bisa mengeras dan membentuk jaringan parut (xeroftalmia), yang bisa menyebabkan kebutaan yang permanen.
  • Malnutrisi pada masa anak-anak (marasmus dan kwashiorkor), sering disertai dengan xeroftalmia; bukan karena kurangnya vitamin A dalam makanan, tetapi juga karena kekurangan kalori dan protein menghambat pengangkutan vitamin A.
  • Kulit dan lapisan paru-paru, usus dan saluran kemih bisa mengeras.
  • Kekurangan vitamin A juga menyebabkan peradangan kulit (dermatitis) dan meningkatkan kemungkinan terkena infeksi.
  • Beberapa penderita mengalami anemia.
  • Kulit menjadi kering, gatal dan kasar.
  • Rambut dapat terjadi kekeringan dan gangguan pertumbuhan rambut dan kuku.
  • Gangguan pertumbuhan pada anak-anak.

Kurang Energi Protein (KEP) adalah gangguan gizi yang disebabkan oleh kekurangan protein dan atau kalori, serta sering disertai dengan kekurangan zat gizi lain. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)  mendefinisikan kekurangan gizi sebagai “ketidakseimbangan seluler antara pasokan nutrisi dan energi dan kebutuhan tubuh bagi mereka untuk menjamin pertumbuhan, pemeliharaan, dan fungsi tertentu.” 

Kurang Energi Protein (KEP) berlaku untuk sekelompok gangguan terkait yang termasuk marasmus, kwashiorkor dan marasmus-kwashiorkor.

Marasmus berasal dari kata Yunani marasmos, yang berarti layu atau wasting. Marasmus melibatkan kurangnya asupan protein dan kalori dan ditandai oleh kekurusan. Para kwashiorkor istilah diambil dari bahasa Ga dari Ghana dan berarti “penyakit dari penyapihan.” Williams pertama kali digunakan istilah tahun 1933, dan mengacu pada asupan protein yang tidak memadai dengan wajar (energi) asupan kalori. Edema adalah karakteristik dari kwashiorkor tetapi tidak ada dalam marasmus.

Studi menunjukkan bahwa marasmus merupakan respon adaptif terhadap kelaparan, sedangkan kwashiorkor merupakan respon maladaptif kelaparan. Anak-anak dapat hadir dengan gambaran beragam marasmus dan kwashiorkor, dan anak-anak dapat hadir dengan bentuk ringan dari kekurangan gizi. Untuk alasan ini, disarankan Jelliffe protein-kalori panjang (energi) gizi buruk untuk menyertakan kedua entitas.

Terjadinya kwashiorkor dapat diawali oleh faktor makanan yang kadar proteinnya kurang dari kebutuhan tubuh, sehingga menyebabkan kekurangan asam amino esensial dalam serum yang diperlukan dalam pertumbuhan dan perbaikan sel. kekurangan asam amino esensial menyebabkan produksi albumin dalam hati juga berkurang, sehingga berbagai kemungkinan akan dialami pasien, seperti terjadi hipoproteinemia menyebabkan edema dan akhirnya menyebabkan asites, gangguan mata, kulit, dan lain-lain.

Terjadinya maramus juga dapat disebabkan faktor makanan yang kadar kalori dan proteinya kurang dari kebutuhan tubuh, sehingga dapat menjadi atrofi jaringan, khususnya pada lapisan subkutan dan akhirnya anak kelihatan kurus, terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.

Gejala klinis kwashiorkor adalah penampilan seperti anak gemuk bila mana diet energi cukup tapi kurang protein, gangguan pertumbuhan, perubahan mental, edema, lemah, anoreksia (hilang nafsu makan), perubahan warna rambut, kulit bintik merah/ hitam, hati membesar, dan anemia.

Gejala klinis maramus adalah wajah menyerupai orang tua, sangat kurus karena hilangnya lemak dan otot-ototnya, perubahan mental, anak menangis terus, kulit kering dan kendur, rambut rontok, lemak bawah kulit berkurang, otot atrofi sehingga tulang terlihat lebih jelas, diare, kelainan jantung, tekanan darah rendah, fekuensi nafas berkurang, serta anemia.

Sebaliknya energi akan disintesis menjadi lemak tubuh, sedangkan lemak yang tersedia dalam tubuh tidak terpakai untuk energi. Akibatnya, penimbunan lemak terus terjadi dan mengakibatkan kegemukan atau obesitas. Efek dari obesitas adalah timbulnya penyakit degeneratif, seperti hipertensi, jantung koroner, diabetes, dan stroke.

 

 

 

 

 

 

Standar Kompetensi     : Menguasai konsep dasar Penyuluhan Kesehatan

Kompetensi Dasar        : Memahami konsep dasar Penyuluhan Kesehatan

Indikator                       : a. Menjelaskan Definisi Penyuluhan Kesehatan (PenKes)

                                      b. Menyebutkan latar belakang dan menerangkan tujuan PenKes

                                      c. Menyebutkan macam pendekatan Penyuluhan Kesehatan

                                      d. Menerangkan materi pokok PenKes (Promotif, prefentif, kuratif, rehabilitatif)

                                      e. Menerangkan Teori Adopsi

PENGERTIAN YODIUM

  • Yodium merupakan zat essensial bagi tubuh, karena merupakan komponen dari Hormon tiroksin. Terdapat dua ikatan organik yang menunjukkan bioaktifitas hormon ini, ialah trijodotyronin T3 dan Tetrajodotyronin T4, yang terakhir juga disebut juga Tiroksin. (Sediaoetama, 2006). Dalam tubuh terkandung sekitar 25 mg yodium yang tersebar dalam semua jaringan tubuh, kandungannya yang tinggi yaitu sekitar sepertiganya terdapat dalam kelenjar tiroid dan yang relatif lebih tinggi dari itu ialah pada ovari, otot, dan darah.

 Yodium diserap dalam bentuk yodida, yang di dalam kelenjar tiroid dioksidasi dengan cepat menjadi yodium, terikat pada molekul tirosin dan tiroglobulin. Selanjutnya tiroglobulin dihidrolisis menghasilkan tiroksin dan asam amino beryodium, tiroksin terikat oleh protein. Asam amino beryodium selanjutnya segera dipecah dan menghasilkan asam amino dalam proses deaminasi, dekarboksilasi dan oksidasi (Kartasapoetra, 2005).

 

ANJURAN ASUPAN YODIUM SETIAP HARI DI DALAM MAKANAN

  1. Dosis 50 µg/hari untuk kisaran usia 0-12 Bulan.
  2. Dosis 90 µg/hari untuk kisaran usia 1-6 tahun.
  3. Dosis 120 µg/hari untuk kisaran usia 7-12 tahun.
  4. Dosis 150 µg/hari untuk kisaran usia 12-Dewasa.
  5. Dosis 200 µg/hari untuk kisaran Ibu hamil dan menyusui. (Arisman, 2004).

 

GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM

  • Gangguan akibat kekurangan yodium adalah sekumpulan gajala yang dapat ditimbulkan karena tubuh seseorang kekurangan unsur yodium secara terus-menerus dalam waktu cukup lama. (DepKes RI, 2000).

 

  • Gangguan akibat kekurangan yodium adalah rangkaian kekurangan yodium pada tumbuh kembang manusia, Sprektum seluruhnya terdiri dari gondok dalam berbagai stadium, kretin endemik yang ditandai terutama oleh gangguan mental, gangguan pendengaran, gangguan pada aak dan dewasa, sering dengan kadar hormon rendah angka lahir dan kematian janin meningkat (supariasa, 2001).

 Kretin adalah hasil dari kekurangan Iodium selama kehamilan, yang mempengaruhi fungsi tiroid janin.

 

MASALAH YANG TIMBUL AKIBAT GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM

1. Defisiensi pada janin

  • Pengaruh utama defisiensi yodium pada janin ialah kretinisme endemis. Gejala khas kretinisme terbagi menjadi dua jenis, yaitu jenis saraf yang menampilkan tanda dan gejala seperti kemunduran mental, bisu-tuli dan diplegia spastik. Jenis kedua yaitu bentuk miksedema yang memperlihatkan tanda hipotiroidisme dan dwarfisme (Arisman, 2004)

2. Defisiensi pada bayi baru lahir.

  • Selain berpengaruh pada angka kematian, kekurangan yang parah dan berlangsung lama akan mempengaruhi fungsi tiroid bayi yang kemudian mengancam perkembangan otak secara dini. (Arisman, 2004)

3. Defisiensi pada anak dan remaja

  • Kekurangan yodium pada anak khas terpaut dengan insiden gondok. Angka kejadian gondok meningkat bersama usia, dan mencapai puncaknya setelah remaja. Prevalensi gondok pada wanita lebih tinggi daripada lelaki. Total Goitre Rate (TGR) anak sekolah lazim digunakan sebagai petunjuk dalam perkiraan besaran GAKY masyarakat suatu daerah. Gangguan pada anak dan remaja akibat kekurangan Yodium yaitu Gondok, hipoiroidisme Juvenile dan perkembangan fisik terhambat. (Arisman, 2004)

4. Defisiensi pada Dewasa

  • Pada orang dewasa, kekurangan yodium menyebabakan keadaan lemas dan cepat lelah, produktifitas dan peran dalam kehidupan sosial rendah (isna, 2009), Gondok dan penyulit, Hipotiroidisme, Hipertiroidisme diimbas oleh yodium. (Arisman, 2004).

5. Defisiensi pada ibu hamil

  • Pada ibu hamil menyebabkan keguguran spontan, lahir mati dan kematian bayi, mempengaruhi otak bayi dan kemungkinan menjadi cebol pada saat dewasa nanti. Seorang ibu yang menderita pembesaran gondok akan melahirkan bayi yang juga menderita kekurangan yodium. Jika tidak segera diobati, maka pada usia 1 tahun, sudah akan terjadi pembesaran pada kelenjar gondoknya. (Isna, 2009).

 

PENANGGULANGAN DAN PENCEGAHAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM

 a. Penanggulangan

 Garam beryodium. Sesuai Kepres no 69, 13 Oktober 1994,mewajibkan semua garam yang dikonsumsi,baik manusia maupun hewan ,diperkaya dengan yodium sebanyak 30-80 ppm (Erna, 2004)

  1. Suplementasi yodium pada binatang
  2. Suntikan minyak beryodium (Lipiodol)
  3. Kapsul minyak beryodium. (Arisman,2004).

b. Pencegahan

  • Secara relatif, hanya makanan laut yang kaya akan yodium : sekitar 100 μg/100 gr. Pencegahan dilaksanakan melalui pemberian garam beryodium. Jika garam beryodium tidak tersedia, maka diberikan kapsul minyak beryodium setiap 3, 6 atau 12 bulan, atau suntikan ke dalam otot setiap 2 tahun. (Arisman,2004).

 

Kandungan yodium dalam makanan

 

Tabel Kandungan Yodium Dalam Makanan

 Jenis makanan Keadaan segar(µ/gram) Keadaan kering(µ/gram)

  1. Ikan air tawar 17 – 40  68 – 194
  2. Ikan air laut 163-3180  471-4591
  3. Kerang 308-1300  1292-4987
  4. Daging hewan 27-97 –
  5. Susu 35-56 –
  6. Telur (93) –
  7. Serealia biji 22-72   34-92
  8. Buah 0-29  62-277
  9. Tumbuhan polong 23-36   223-245
  10. Sayuran 12-201  204-1636

(Arisman, 2004)

 

PENGERTIAN GARAM BERYODIUM

  • Garam beryodium adalah garam yang telah diperkaya dengan yodiumyang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan kecerdasan.
  • Garam beryodium adalah garam natrium Clorida yang diproduksi melalui proses Yodisasi yang memenuhi Standart Nasional indonesia (SNI), mengandung yodium antara 30-80 ppm untuk konsumsi manusia atau ternak, pengasinan, ikan dan bahan penolong industri pangan kecuali untuk pemboran minyak, Chlor Alkali Plan (CAP) dan industri kertas pulp (Depkes RI, 2000).

a. Persyaratan garam sehat

  1. Garam sehat adalah garam konsumsi yang telah difortifikasi dengan yodium yang cukup untuk kebutuhan tubuh yang mengandung kadar yodium antara 30-40 ppm dan kandungan air ≤ 5%.
  2. Garam Yodium diharuskan dikonsumsi seluruh penduduk baik di daerah endemik maupun daerah bukan endemik
  3. Konsumsi garam yodium rata-rata per orang 10 gr per hari dan kebutuhan ion yodium sebesar 150-200 mikrogram per orang per hari bila konsumsi rata-rata.

 

b. Pengelolaan Garam Sehat

 1). Penyimpanan

  • Garam yodium perlu disimpan di bejana atau wadah tertutup, Tidak kena cahaya, Tidak dekat dengan tempat lembab air, hal ini untuk menghindari penurunan kadar yodium dan meningkatkan kadar air, karena kadar yodium menurun bila terkena panas dan kadar air yang tinggal akan melekatkan yodium. (Palupi, 2008).

2). Penggunaa Garam Yodium

  • Tidak dibubuhkan pada sayuran mendidih, tetapi dimasukan setelah sayuran diangkat dari tungku karena kadar kalium Iodate (KIO3) dalam makanan akan terjadi penurunan setelah dididihkan 10 menit.
  • Kadar Yodium juga akan menurun pada makanan yang asam, makin asam makanan, makin mudah akan menghilangkan KIO3 dari makanan tersebut. (Palupi, 2008).

 c. Proses Perusak terhadap Kandungan yodium

  1. Merebus (terbuka) kadar yodium hilang ± 50 %
  2. Menggoreng kadar yodium hilang ± 35 %
  3. Memanggang kadar yodium hilang ± 25 %
  4. Brengkesan atau pepesan kadar yodium hilang ± 10 %.

 

ANEMIA GIZI BESI

Anemia Gizi Besi (AGB)
Anemia sangat umum dijumpai di Indonesia, prevalensinya masih sangat tinggi pada kelompok-kelompok tertentu. Anemia didefinisikan sebagai suatu keadaan kadar hemoglobin didalam darah lebih rendah dari nilai normal untuk kelompok orang yang bersangkutan. Menurut WHO (1996), anak umur 6 bulan – 5 tahun dikatakan anemia jika mempunyai kadar hemoglobin darah kurang 110 g/L.

a. Prevalensi Anemia Gizi Besi
Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan sekitar 40% dari penduduk di dunia (lebih dari 2 milyar jiwa) terkena anemia. Kelompok yang paling tinggi prevalensinya adalah wanita hamil dan orang tua yaitu sekitar 50%, bayi dan anak sampai umur 2 tahun 48%, anak sekolah 40%, wanita tidak hamil 35%, adolescent 30-55%, dan anak prasekolah 25%. Prevalensi anemia di negara-negara berkembang sekitar empat kali lebih besar dibandingkan dengan negara-negara maju. Diperkirakan prevalensi anemia untuk anak sekolah di negara berkembang dan maju adalah 53% dan 9%, anak prasekolah 42% dan 17% (Allen and Gillespie, 2001). Prevalensi AGB di Indonesia pada satu tahun pertama kehidupan masih diatas 60%, walaupun angkanya menurun sejalan dengan bertambahnya usia anak, namun prevalensinya masih tinggi yaitu 32.1 % pada anak usia 48-59 bulan. Menurut WHO anemia dikatakan menjadi masalah kesehatan masyarakat jika prevalensi di suatu negara yaitu < 15% adalah rendah, 15-40% adalah sedang dan >40% adalah tinggi (Direktorat Gizi Mayarakat, 2003)

b. Penyebab Anemia Gizi Besi
Umur sel darah merah sekitar 120 hari, sumsum tulang akan mengganti sel darah merah yang tua dengan membuat sel darah merah yang baru. Kemampuan membuat sel darah merah baru sama cepatnya dengan banyaknya sel darah merah tua yang hilang, sehingga jumlah sel darah merah selalu dipertahankan cukup banyak didalam darah. Penyebab AGB utama yang terjadi terutama di negara-negara yang sedang berkembang adalah penyerapan zat besi. Sumber terbaik dari besi adalah makanan yang berasal dari daging, ikan dan telur, namun konsumsinya rendah pada masyarakat yang berpenghasilan rendah. Jumlah zat besi yang diserap dari makanan hewani adalah sekitar 25%, sedangkanjumlah besi yang diserap dari biji-bijian dan kacang-kacangan hanya 2-5%. Faktor risiko terjadi anemia adalah pada bayi yang lahir premature atau kekurangan zat besi pada masa kehamilan. Bayi yang lahir dengan berat badan yang rendah mempunyai simpanan zat besi yang rendah, yang akan habis pada umur 2-3 bulan.Sehingga diperlukan suplementasi zat besi ketika mereka berumur 2 bulan. Suatu studi perbandingan yang dilakukan di Honduras dan Swedia pada bayi umur 6 bulan yang diberi ASI eksklusif menunjukkan bahwa konsentrasi ferritin (yang menunjukkan cadangan zat besi) dari bayi-bayi di Honduras setengah dari bayi di Swedia. Hal ini menggambarkan rendahnya akumulasi dari zat besi ketika masih didalam kandungan. Pada anak-anak, AGB diperberat keadaannya oleh infestasi cacing tambang. Cacing tambang menempel pada dinding usus dan memakan darah. Akibat gigitannya sebagian darah hilang dan dikeluarkan dari badan bersama tinja. Setiap hari diperkirakan satu ekor cacing tambang memakan 0.03 – 0.15 ml darah, jika didalam tubuh terdapat 100 ekor cacing tambang, akan menyababkan kehilangan darah sekitar 3 – 15 ml per hari.

c. Konsekuensi dari Anemia Gizi Besi
Gejala dari kekurangan zat besi pada individu tidak spesifik. Kekurangan zat besi pada tingkat sedang biasanya didiagnosis dari penilaian di laboratorium. Kekurangan zat besi pada tingkat berat sama dengan jenis anemia lainnya yaitu mudah capek, nafsu makan menurun, atau terlihat pucat. Konsekuensi dari AGB adalah menurunnya produktifitas pada orang dewasa dan pada anak-anak terhadap perkembangan mentalnya. Ulasan dari berbagai hasil penelitian menunjukkan anak balita yang menderita AGB mempunyai skor mental dan motor pada uji Bayley lebih rendah dari anak yang tidak menderita AGB. Setelah disuplementasi dengan zat besi terdapat kenaikan skor mental dan motor yang cukup berarti. Pada anak prasekolah (usia 3-6 tahun) yang menderita AGB menyebabkan pemusatan perhatian dan proses belajar rendah. Setelah disuplementasi dengan zat besi anak yang AGB pemusatan perhatian dan proses belajarnya menjadi lebih baik Penelitian yang dilakukan pada binatang menunjukkan bahwa AGB mempengaruhi isi dan distribusi besi otak dan menyebabkan perubahan prilaku. Walaupun penelitian pada binatang dapat misleading, namun berbagai penelitian secara konsisten menunjukkan bayi yang menderita AGB terlambat perkembangan psikomotornya, terutama pada kemampuan berbicara dan keseimbangan tubuh. Pada bayi-bayi ini suplementasi zat besi tidak cukup untuk mengembalikan pengaruh negatif akibat kekurangan zat besi, walaupun kadar hematologi darah sudah kembali normal. Hal ini menunjukkan dampak dari AGB pada masa bayi mungkin berhubungan dengan kemampuan kognitif pada masa-masa selanjutnya.